Permasalahan Budidaya Tanaman Padi Sawah pada Tanah Histosol

Sifat Tanah Histosol

Menurut klasifikasi FAO – UNESCO salah satu tanah yang termasuk dalam ordo tanah histosols yaitu tanah gambut dengan kandungan bahan organik >30% dalam lapisan setebal 40 cm dari bagian 80 cm teratas profil tanah. Tingkat dekomposisi bahan organik pada tanah histosol dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan yaitu fibrik, hemik, dan saprik. Selanjutnya lahan gambut dibedakan berdasarkan kedalamannya menjadi gambut dangkal (kedalaman 50-100 cm) dengan tingkat dekomposisi hemik sampai saprik; gambut sedang (> 100-200 cm) dengan tingkat dekomposisi hemik sampai saprik; dan gambut dalam (> 200-300 cm) dengan tingkat dekomposisi fibrik sampai hemik; dan gambut sangat dalam (> 300 cm) dengan tingkat dekomposisi fibrik sampai hemik (Widjaja-Adhi et al., 2000).

Gambut terbentuk akibat proses dekomposisi bahan-bahan organik tumbuhan yang terjadi secara anaerob dengan laju akumulasi bahan organik lebih tinggi dibandingkan laju dekomposisinya. Akumulasi gambut umumnya akan membentuk lahan gambut pada lingkungan jenuh atau tergenang air, atau pada kondisi yang menyebabkan aktivitas mikroorganisme terhambat. Vegetasi pembentuk gambut umumnya sangat adaptif pada lingkungan anaerob atau tergenang, seperti bakau (mangrove), rumput-rumput rawa dan hutan air tawar. Menurut (Hardjowigeno, 1997) proses pembentukan tanah gambut disebut proses geogenik (bukan pedogenik) yaitu proses terjadinya akumulasi bahan organik sehingga tebalnya mencapai lebih dari 30 cm yang disebut juga proses paludisasi. Penggunaan tanah Histosol paling ekstensif adalah sebagai lahan pertanian, terutama untuk tanaman sayur-sayuran seperti buncis, kacang panjang, bayam, dan lain-lain. Histosol menyusun sekitar 1% dari daratan dunia.

Di dataran rendah dan daerah pantai, mula-mula terbentuk gambut topogen karena kondisi anaerobik yang dipertahankan oleh tinggi permukaan air sungai, tetapi kemudian penumpukan seresah tanaman yang semakin bertambah menghasilkan pembentukan hamparan gambut ombrogen yang berbentuk kubah (dome) . Gambut ombrogen terbentuk dari vegetasi hutan yang berlangsung selama ribuan tahun (4000-5000 tahun yang lalu) dengan ketebalan hingga puluhan meter. Gambut tersebut terbentuk dari vegetasi rawa yang sepenuhnya tergantung pada input unsur hara dari air hujan dan bukan dari tanah mineral di bawah atau dari rembesan air tanah, sehingga tanahnya menjadi miskin hara dan bersifat masam (Radjagukguk, 1990).

Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua (gelap) tergantung tahapan dekomposisinya. Secara kimiawi gambut bereaksi masam, pH berkisar antara 2,8 – 4,5 dan kemasaman potensial mencapai >50 cmol kg-1. Ketersediaan unsur-unsur makro, N,P, dan K serta sejumlah unsur mikro khususnya Cu, B dan Zn juga rendah. Kapasitas tukar kation (KTK) tanah gambut cukup tinggi apabila dihitung berdasarkan berat bahan kering mutlak (115-270 cmol kg-1), tetapi relatif lebih rendah bila dihitung berdasarkan berat volume tanah di lapangan. Kejenuhan basa (KB) tanah gambut biasanya rendah pada kisaran 5,4 – 13% dengan rasio C/N tinggi yaitu 24-33.4. Kandungan airnya tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari berat kering, rendahnya bulk density (0,05-0,4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling, 2000). Ketebalan horison organik, sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi komposisi kimia gambut. Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan, semakin banyak kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur.

Lahan gambut di Indonesia pada umumnya telah diusahakan sebagai lahan pertanian oleh penduduk lokal, bahkan akhir-akhir ini pembukaan lahan gambut meningkat akibat kebutuhan untuk ekstensifikasi usaha pertanian tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan. Selain itu, pemanfaatan gambut sebagai bahan amelioran juga banyak dilakukan, khususnya untuk perbaikan teknologi budidaya pada tanah-tanah mineral. Namun demikian, keberhasilan pemanfaatan gambut baik untuk usaha budidaya maupun sebagai bahan ekstraksi masih jauh dari yang diharapkan, karena ada kendala yang berasal dari sifat-sifat gambut bawaan (inherent properties) serta paket teknologi reklamasi yang diterapkan belum memadai. Penerapan paket teknologi untuk reklamasi gambut biasanya menyebabkan dekomposisi lanjutan berlangsung lambat, baik secara fisik maupun biokimia, karena bahan dasar gambut didominasi oleh lignin dengan konsentrasi sekitar 64 – 74% (Driessen & Suhardjo, 1976).

  1. Sifat dan ciri utama
  • Merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat).
  • Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm.
  • Terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan, sampah hutan, atau lumut yang cepat membusuk yang terdekomposisi dan terendapkan dalam air.
  • Lahan gambut yang telah mengering akan mengalami pelepasan senyawa oksidasi FeS (pirit) yang bersifat racun.
  1. Faktor kendala :
  • Mempunyai kadar air sangat tinggi, baik atas dasar volume maupun berat tanah. Kebanyakan air tertahan dalam pori – pori kasar (air gravitasi) atau dalam pori – pori yang sangat halus sehingga tidak tersedia air untuk tanaman.
  • Umumnya kurang subur.
  • Miskin unsur hara, sehingga tanaman yang tumbuh di atasnya menjadi miskin unsur hara pula.
  • Tanah ini merupakan tanah yang mudah terbakar, menghasilkan lebih banyak asap dan emisi karbon dibandingkan dengan jenis tanah yang lain.
  1. Cara penanggulanan
  • Karena Histosol mengkerut bila kering, maka sifat kelembabannya lebih baik apabila didasarkan pada volume basah dan harus dilakukan perbaikan drainase.
  • Dijadikan sebagai kawasan konservasi
  • Dapat menggunakan lahan dengan sistem lahan basah atau pasang surut
  • Tidak membabat hutan dan pembakaran pada area penutup tanah di sekitar lahan gambut.
  1. Lokasi persebaran:

Riau, Sumatera (3.87 juta ha), Irian Jaya (3.3 juta), Kalimantan Tengah (1.99 juta), Kalimantan Barat (1.70 juta ha) dan Sumatera Selatan (1.45 juta ha).

  1. Usaha pertanian yang cocok:

Tanaman semusim dan tanaman tahunan dapat dibudidayakan pada lahan gambut tetapi yang paling berhasil atau menunjukkan harapan adalah tanaman sayuran seperti : buncis, kacang panjang, bayam. Tanaman buah-buahan (seperti nanas, pepaya dan rambutan). Dan tanaman perkebunan (terutama kelapa, kelapa sawit, kopi dan karet).

Syarat Tumbuh Tanaman Padi Sawah

Tanaman padi dapat hidup baik didaerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 -2000 mm. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi 23 °C. Tinggi tempat yang cocok untuk tanaman padi berkisar antara 0 -1500 m dpl. Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jumlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18 -22 cm dengan pH antara 4 -7.

Faktor Pembatas Tanah Histosols

  1. BO yang tinggi

Kandungan BO yang tinggi pada tanah Histosol ini menyebabkan tanah menjadi masam, reaksi tanah masam tersebut berasal dari berbagai asam organik yang terbentuk selama pelapukan. Pelpukan senyawa organik menyebabkan gambut kaya dengan asam-asam organic yang meracuni tanaman terutama senyawa fenol. Selain itu, unsur mikro seperti Cu, Mn, dan Fe membentuk khelat dengan senyawa organik sehingga sukar tersedia bagi tanaman.

  1. Dekomposisi Bahan Organik terhambat

Histosol terbentuk apabila produksi dan penimbunan bahan organik lebih besar dari mineralisasinya. Keadaan seperti ini terdapat di daerah – daerah yang selalu digenangi air sehingga sirkulasi oksigen sangat terhambat. Oleh karena itu, dekomposisi bahan organik terhambat dan terjadilah akumulasi bahan organik. Pembentukan Histosol tidak dipengaruhi oleh iklim. Oleh karena itu, tanah ini dapat ditemukan berasosiasi dengan segala macam tanah.

  1. Kapasitas Tukar Kation Cukup Tinggi namun Kejenuhan Basa Rendah

Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah Histosol disebabkan oleh gugusan karboksil dan phenolik, dan juga mungkin gugus fungsional yang lain. Gugusan – gugusan fungsional yang lain tersebut bertambah seiring dengan bertambahnya dekomposisi bahan organik sehingga kapasitas tukar kation meningkat hingga 200 cmol (+) /kg atau lebih tinggi. Muatan dalam bahan organik ini adalah muatan tergantung pH, sehingga kapasitas tukar kation tanah Histosol dapat berubah dari 10-20 cmol (+) /kg pada pH 3,7 menjadi lebih dari 100 cmol (+)/kg pada pH 7. Kejenuhan basa lahan gambut tergolong rendah, < 10%. Kejenuhan basa rendah karena ketebalan gambut itu sendiri, semakin tebal gambut maka kejenuhan basa semakin rendah. Menurut Tan (1994) kesuburan tanah tinggi bila kejenuhan basa ≥ 80%, kesuburan sedang bila kejenuhan basa kuarang dari 80% tetapi lebih dari 50%, dan rendah bila kejenuhan basa <50%.

  1. Kedalaman Efektif Tanah yang Dangkal

Tanah gambut yang dalam umumnya kurang subur dibandingkan yang lebih dangkal karena tanah gambut dangkal berasal dari sisa – sisa vegetasi hutan yang lebih kaya unsur hara daripada gambut dalam. Pada gambut dangkal, pertumbuhan vegetasi hutan umumnya masih dipengaruhi oleh air sungai yang banyak mengandung unsur hara. Selain itu, akar – akar vegetasi masih dapat masuk ke dalam tanah mineral di bawahnya untuk menyerap unsur hara sehingga vegetasi yang tumbuh dan kemudian membusuk di tempat ini banyak pula mengandung unsur hara. Apabila gambut ini makin tebal, maka tinggi permukaan tanah gambut dapat menjadi lebih tinggi dari permukaan air sungai, sehingga air sungai tidak lagi pernah meluap di atas permukaan gambut ini. Umumnya padi sawah memiliki kedalamaan efektif antara 18 -22 cm. Sedangkan kedalaman efektif pada tanah histosol kurang dari 18 cm.

  1. Ketersediaan air yang rendah bagi tanaman

Air yang tersedia hanyalah air hujan yang miskin unsur hara, sehingga tanaman yang tumbuh di atasnya menjadi miskin unsur hara. Demikian pula makin tebal gambut maka vegetasi hutan yang tumbuh di tempat tersebut, akar – akarnya tidak lagi dapat mencapai lapisan tanah mineral yang lebih kaya unsur hara. Oleh karena itu, sisa – sisa vegetasi yang tertimbun di permukaan tanah ini juga  merupakan gambut yang kurus.

Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi. Air pada tanah histosols merupakan air higroskopik. Air yang diserap oleh tanah sangat kuat sehingga tidak dapat digunakan tanaman ( adhesi antara tanah dan air ).

  1. Tanah ini merupakan tanah yang mudah terbakar

Tanah gambut mempunyai sifat dapat menyusut (subsidence) kalau perbaikan  drainase dilakukan sehingga  permukaan tanah ini makin lama makin menurun. Tanah gambut tidak boleh terlalu kering karena dapat menjadi kering irreversible (kering takbalik), yaitu sulit menyerap air kembali dan mudah terbakar.

Analisis Hubungan Syarat Tumbuh Tanaman Padi dengan Faktor Pembatas Histosols

Budidaya tanaman padi pada tanah histosols bukanlah suatu hal yang mudah. Hal tersebut karena ada beberapa sifat, baik fisika, kimia, maupun biologi, pada tanah histosols justru berlawanan dengan syarat tumbuh yang dibutuhkan oleh tanaman padi untuk dapat hidup dan berkembang.

            Tanah histosols memiliki kedalaman efektif kurang dari 18 cm, sedangkan tanaman padi membutuhkan tanah dengan kedalaman efektif 18-22 cm. Hal tersebut akan berpengaruh pada kekuatan akar tanaman untuk menjangkar tanah. Pada dasarnya, tanah histosols tidak dapat memenuhi fungsi sebagai penunjang mekanik bagi tanaman padi.

            pH tanah histosols sangat rendah, tanahnya masam. Hal tersebut karena kandungan bahan organiknya yang sangat tinggi ( lebih dari 20% ). Sedangkan, pH tanah yang dibutuhkan oleh tanaman padi adalah antara 4-7. Jika tanahnya masam, maka hal tersebut akan berpengaruh pada KTK dan KTA, ketersediaan unsur hara bagi tanaman, serta potensi keracunan akibat senyawa-senyawa fenol pada lahan gambut yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Asam organik seperti asam fenol juga mengacu pada pembentukan pirit dengan adanya sulfur. Pirit (FeS2) yang bila teroksidasi dapat berubah menjadi sulfat yang sangat masam (pH<3,5).  Kandungan pirit lebih banyak terdapat pada tanah-tanah berpotensi Sulfat Masam (Sulfaquent) yang mengandung bahan sulfidik, yaitu lapisan kaya akadn sulfide.

            Histosols merupakan tanah dimana jumlah air melimpah ( tergenang ). Namun, air yang melimpah tersebut tidak dapat terserap oleh tanaman dalam jumlah yang besar sehingga jumlah air yang tersedia sangatlah minim. Padahal, tanaman padi membutuhkan jumlah air yang sangat besar dengan kondisi tergenang. Sehingga perlu dilakukan pengelolaan agar air yang tersedia dapat mencukupi kebutuhan tanaman padi namun tetap harus memperhatikan kedalaman pengolahan tanah agar tidak menimbulkan potensi teroksidasinya pirit menjadi sulfat.

Tindakan Pengelolaan Ideal

Agroekosistem lahan gambut mempunyai sifat, ciri dan watak yang sangat khas dan unik dibandingkan dengan agroekosistem lainnya. Salah satu karakter unik tersebut adalah sifat genangan dan tanahnya yang spesifik. Walaunpun lahan gambut dipandang sebagai wilayah marginal dan rapuh (fragile), tetapi potensi sumber daya lahan dan air sebagai sumber pertumbuhan produksi pertanian, perikanan dan peternakan cukup besar apabila dikelola dengan baik dan tepat. Namun demikian, pengembangan pertanian di lahan gambut dihadapkan pada beberapa kendala baik sifat agrofisik lahan, maupun sosial ekonomi masyarakat yang perlu diperhatikan. Pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten) telah memprogramkan rencana pengembangan lahan gambut sebagai sumber pertumbuhan produksi padi maupun tanaman lainnya dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar lahan gambut tersebut

Pola tanam yang dapat dikembangkan di lahan gambut cukup beragam, tergantung pada kondisi lahan, kemampuan petani, permintaan pasar, dan factor eksternal pendukung seperti transportasi. Untuk arahan penggunaan lahan sawah, alternative komoditasnya yaitu padi , kacang panjang, gambas,terung. Dengan alternative teknologi berupa pola tanam (padi – sayuran), pengaturan tata air atau drainase, serta pemupukan dan pengapuran jika diperlukan mengingat lahan gambut memiliki reaksi tanah masam.

Kendala utama dalam pemanfaatan lahan gambut selama ini adalah genangan yang tinggi dan kadang-kadang datangnya air (kiriman air) secara tiba-tiba dan sukar diduga. Hujan di hulu dapat menimbulkan genangan sehingga pada musim hujan genangan meningkat sampai 1-3 meter. Sebaliknya pada musim kemarau terjadi .kekeringan atau kekurangan air akibat penyaliran (drainase) yang cepat dan penguapan yang tinggi. Dampak kekeringan terhadap biogeokimia merupakan masalah inherence (watak bawaan) dari tanah-tanah rawa, yaitu berubah keras dan teguh karena kadar lempung (clay) yang tinggi dan pada gambut berubah dari hidrofilik (suka air) menjadi hidrofobik (benci air). Selain itu juga kekeringan menimbulkan terjadinya ambelasan (subsidence) dan kering tak balik (irreversible drying). Sifat kimia tanah lahan gambut dan sulfat masam juga dapat menjadi masam, kahat hara P, Cu, Zn, B, dan kelarutan ion toksis Al, Fe, Mn yang tinggi apabila terjadi kekeringan. Pada kondisi tergenang muncul meningkatnya kelarutan Fe2+, H2S, dan CO2. Tanah-tanah semacam ini memerlukan tingkat pengelolaan menengah atau sedang dengan perbaikan pengelolaan air dan tanah secara komprehensif.

Keberhasilan pertanian di lahan rawa lebak sementara ini sangat ditentukan oleh ketepatan penentuan waktu tanam. Hal ini disebabkan karena waktu kering kadangkadang sangat pendek hanya 3-4 bulan sehingga banyak tanaman yang belum mencapai waktu panen, tanaman tenggelam akibat datangnya air yang sukar diduga. Oleh karena itu pemilihan komoditas dan varietas yang berumur pendek dan toleran terhadap kondisi lahan gambut mutlak diperlukan.

Dalam pengembangan budidaya padi pada lahan gambut memiliki kendala berupa rendahnya mutu benih dan produktivitas padi. Lahan gambut dengan segala keterbatasannya memerlukan benih yang memiliki kemampuan untuk mengatasi keterbatasan tersebut sehingga padi masih dapat berproduksi dengan baik. Untuk itu diperlukan seleksi tanaman padi yang dapat beradaptasi dengan baik di lahan gambut, terutama melalui seleksi benih unggul lokal. Berdasarkan penelitian studi pemanfaatan gambut asal Sumatera yaitu pada provinsi Bengkulu, terdapat 19 varietas padi yang mempunyai tinggi tanaman 111,9 (padi Gembira Kuning) hingga 174,4 (padi Cina Lamo) dan hanya 1 varietas yang memiliki tinggi dibawah rata-rata yaitu 85 cm.

Pada pengelolaan lahan gambut, masalah tata air merupakan masalah yang serius dan seringkali ketinggian air berubah secara mendadak. Sehubungan dengan hal tersebut maka varietas padi dengan tinggi diatas 150 cm. memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan di lahan gambut. Tetapi, tanaman padi yang tinggi sering menimbulkan masalah lain yaitu mudah rebah. Data menunjukkan bahwa 2 varietas padi, yaitu padi Siam dan Gembira Kuning berumur genjah, sementara varietas yang lain berumur sangat dalam dengan saat mulai berbunga antara 83-125,3 HST.

Hasil penelitian juga menunjukkan adanya varietas-varietas yang memiliki potensi hasil sangat tinggi, antara lain padi Batik, padi Jambi Alus, padi Bugis dan padi Duku dengan jumlah anakan produktif berkisar antara 34 sampai 40 malai per rumpun. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan varietas unggul nasional seperti IR64/36 yang mampu membentuk anakan produktif pada tanah di P. Jawa antara 15-21 anakan per rumpun (Anwari, 1993). Hasil percobaan ini juga memberikan gambaran bahwa jumlah anakan produktif berkorelasi positif dengan potensi hasil padi. Daya adaptasi dan potensi hasil yang baik pada beberapa varietas padi local tersebut, selanjutnya merupakan sumber plasma nutfah penting untuk bahan tetua bagi persilangan dalam upaya pengembangan varietas-varietas padi unggul lahan gambut.

Dalam pengelolaan drainase pada lahan gambut, seperti pada pelaksanaan proyek PLG (Pengalihan Lahan Gambut) yang membuka lahan gambut-dalam dan sangat-dalam yang sangat rentan terhadap gangguan untuk pengembangan lahan-lahan pertanain. Harus memperhatikan pengaturan tata air. Tujuan utama pembuatan saluran drainase adalah untuk keperluan penyediaan air pada saat musim kemarau serta membuang air berlebih pada musim hujan. Tujuan tersebut bisa saja gagal karena alih-alih mengatur tata air, saluran tersebut justru membuang air dari lahan gambut dan dengan demikian menghilangkan karakteristik gambut sebagai penyimpan air.

Hanya dalam dua tahun kekeliruan tersebut sudah mulai terlihat, dimana beberapa saluran sudah mulai kering dan pematang saluran runtuh. Meskipun beberapa saluran masih digunakan sebagai sarana transportasi, tetapi sebagian besar ekosistem sudah rusak, kayu telah ditebangi serta lahan gambut menjadi kering dan sangat mudah terbakar. Salah satu pihak yang paling merasakan akibat dari kondisi lahan dan hutan rawa yang telah rusak tersebut adalah masyarakat lokal. Mereka kehilangan sumber daya alam yang sebelumnya dapat menunjang kehidupan sehari-hari sehingga kehidupan masyarakat, baik penduduk asli maupun transmigran, menjadi serba sulit. Hal ini tentu saja sangat bertolak belakang dengan tujuan awal dari proyek PLG yang konon diperuntukan untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk pengelolaan yang ideal pada tanah histosol ini yaitu membuat saluran drainase, sehingga pada tanah tersebut tidak tergenang air.

Tindakan Pengelolaan Riil

  1. Reklamasi lahan → pengelolaan Hidrologi

Drainase lahan untuk mematangkan gambut dengan mengeringkannya sekali-kali, namun jangan dibiarkan menjadi terlalu kering atau melewati batas kering tak-balik. Akibatnya lahan tersebut tidak dapat ditanami karena tidak dapat menyediakan air untuk keperluan tanaman. Apabila lapisan tanah di bawah gambut merupakan tanah liat, mungkin cukup subur. Tetapi bila di bawah gambut ada pasir, tanah tersebut kurang subur.

  1. Ameliorasi → pengolahan tanah, pemupukan, dan pengapuranpertanian berkelanjutan dalam konteks pertanian lahan gambut berarti sistem pertanian yang berwawasan lingkungan dengan berdasarkan pada kesesuaian lahan, pengawetan lapisan gambut.Teknik pertanian modern yang diperkenalkan adalah pengelolaan air untuk irigasi yang lebih efektif, pemberian bahan tertentu untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, strategi Tanpa Olah Tanah dan olah lubang. Penggunaan pupuk kimia yang tidak ramah lingkungan, akan menambah kadar keasaman dan menyebabkan semakin banyak emisi CO2 yang dilepaskan ke udara. Input yang dianjurkan adalah abu yang dibuat dari sekam padi, rumput alang-alang, atau sisa tanaman budi daya yang dicampur dengan pupuk kotoran ayam.  Penambahan tanah mineral (lumpur laut) juga dapat diaplikasikan untuk meningkatkan kejenuhan basa pada lahan gambut, disertai penambahan basa-basa lain dengan cara pengapuran. Konservasi Lahan dengan Teknologi Tradisional “Tepulikampar”. Teknologi tinggi tidak harus canggih dan serba modern, tetapi dapat digali dari cara-cara tradisional yang berkembang di masyarakat. Teknologi penyiapan lahan sawah yang diterapkan petani Banjar secara turun-temurun ternyata mengandung kaidah-kaidah konservasi lahan yang bermanfaat dalam mempertahankan kesuburan tanah serta memperbaiki kualitas tanah dan air.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.2010. http://wahyuaskari.wordpress.com/akademik/konsep-utama-ordotanah/. Diakses pada 30 oktober 2010

Anonymous.2010.http://www.depnakertrans.go.id/microsite/KTM/?show=p8. Diakses pada 30 oktober 2010

Anonymous.2010.http://www.google.com. Diakses pada 30 oktober 2010

Anonymous.2010.http://www.wikipedia.com. Diakses pada 30 oktober 2010

Anonymous.2010http://ngraho.com/tag/menanam-padi/. Diakses pada 30 oktober 2010

Anonymous.2010http://www.litbang.deptan.go.id/warta-ip/pdf-file/5.wahyunto_ipvol18-2-2009.pdf. Diakses pada 30 oktober 2010

Anonymous.2010http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/592/file/B2-PTTRawaLebak.pdf. Diakses pada 30 oktober 2010

Ambak, K., dan Melling, L., 2000. Management Practices for Sustainable Cultivation of Crop Plants on Tropical Peatlands. Proc. Of The International Symposium on Tropical Peatlands 22-23 November 1999. Bogor-Indonesia, hal 119

Subagyo, Marsoedi dan Karama, S., 1996. Prospek Pengembangan Lahan Gambut untuk Pertanian dalam Seminar Pengembangan Teknologi Berwawasan Lingkungan untuk Pertanian pada Lahan Gambut, 26 September 1996. Bogor.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *