ISU KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN DI KAWASAN DATARAN TINGGI DIENG DAN SOLUSI MANAGEMENNYA

BAB I

LATAR BELAKANG KASUS

Pegunungan Dieng merupakan kawasan di wilayah perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Batang, dan Kabupaten Temanggung dengan luas hutan kurang lebih 20.161 hektar hutan Negara yang dikelola Perhutani, dan 19.472 hektar hutan rakyat. Wilayah ini berada pada ketinggian antara 1.500 sampai dengan 2.095 meter diatas permukaan laut dengan kemiringan lebih dari antara 15 – 40 % dan dibeberapa wilayah >40%. Mata pencaharian penduduknya sebagian besar adalah bertani. Secara administratif Dataran Tinggi Dieng terletak di dua kabupaten yaitu Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo (Suara Merdeka, 30 Agustus 2005).

Kepadatan penduduk rata-rata di Kawasan Dieng mencapai 100 jiwa/km2 dengan pemilikan lahan yang rendah yaitu rata-rata sebesar 0,1 ha. Desa yang paling padat penduduknya adalah Desa Dieng Kecamatan Kejajar yang mencapai 190 jiwa / km2. Dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan tingkat kepemilikan tanah yang rendah berimplikasi pada tekanan terhadap kawasan lindung dengan semakin meningkatnya lahan yang beralih fungsi menjadi kawasan budidaya.

Kawasan lindung merupakan kawasan yang fungsi utamanya adalah melindungi pelestarian fungsi sumberdaya alam, sumberdaya buatan, serta nilai budaya dan sejarah bangsa. Kawasan ini harus dilindungi dari kegiatan produksi dan kegiatan manusia lainnya yang dapat mengurangi atau merusak fungsi lindungnya.

Luas Hutan Negara yang ada di Dataran Tinggi Dieng 7.000 hektar diantaranya adalah kawasan lindung, namun lebih dari 90% dari sekitar 7.000 hektar kawasan lindung di Dataran Tinggi Dieng tersebut telah rusak karena beralih fungsi menjadi ladang tanaman semusim. Dan khususnya untuk wilayah Wonosobo kerusakan telah mencapai 50 sampai dengan 60 %. Alih fungsi hutan menjadi lahan tanaman semusim terutama kentang, telah merusak kawasan fungsi lindung (Kompas, 18 Maret 2006).

Sebagai Kawasan Fungsi Lindung seharusnya Dataran Tinggi Dieng merupakan wilayah yang harus dilindungi dari kegiatan produksi dan kegiatan manusia lainnya yang dapat merusak fungsi lindungnya. Namun pada kenyataannya daerah ini dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya dengan mengeksploatasi lahan secara besar-besaran untuk ditanami tanaman semusim yaitu kentang. Tanaman kentang merupakan komoditas unggulan bagi petani di Dataran Tinggi Dieng.

Tanaman kentang telah menjadi primadona bagi masyarakat di Dataran Tinggi Dieng. Namun karena dalam teknik budidayanya tidak memperhatikan kaidah konservasi maka pembudidayaan komoditas kentang telah mengubah wajah Dataran Tinggi Dieng. Selain itu pola bertanam dengan sistem guludan membujur ke bawah dan tidak melingkar bukit adalah tindakan yang dapat mempercepat erosi. Eksploatasi lahan yang kurang memperhatikan upaya konservasi itu jelas akan merusak ekologi, (Suara Merdeka, 19 Juni 2006).

Luas tanaman kentang di Daerah Dieng terus bertambah dari tahun ke tahun. Di satu sisi kondisi ini amat menguntungkan bagi peningkatan taraf hidup petani. Tetapi di sisi lain akibat terhadap kerusakan lingkungan yang ditimbulkan lebih besar. Daerah bergunung – gunung dengan kemiringan lebih dari 40 %, telah dieksploatasi besar-besaran untuk lahan tanaman kentang . Bahkan lebih dari 900 hektar kawasan hutan lindung di Wonosobo pun telah dibabat habis.

Wajah Dieng Plateau sebagai kawasan suaka alam dan cagar budaya telah jauh berbeda. Pegunungan yang dulu berpanorama indah dengan aneka candi peninggalan Hindu, kini berganti wajah menjadi pegunungan gundul. Situs kompleks Candi Dieng yang luasnya 259.866 m2 di Wonosobo telah dijarah dan hutan lindung di kompleks candi tersebut di ubah menjadi lahan pertanian (Suara Merdeka, 2005).

Konversi lahan di Dataran Dieng telah menyebabkan terjadinya degradasi lahan yang parah. Lahan kritis yang sudah di atas ambang batas toleransi terjadi di mana-mana akibat pemanfaatan lahan hutan menjadi lahan pertanian. Berdasarkan data dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ARUPA yang peduli terhadap Dieng, saat ini ada 4.758 ha. tanaman kentang di Dieng yang masuk wilayah Banjarnegara, dan 3.000 ha lebih yang ada di Wonosobo. Jadi sekitar 7.758 ha lebih lahan dieng sudah menjadi lahan kritis.

Lahan kritis di Dataran Tinggi Dieng tetap saja dapat berproduksi karena tanaman kentang dipacu dengan pupuk kandang maupun pupuk kimia dalam dosis besar. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya tingkat kesuburan tanah sudah sangat rendah. Kondisi lahan kritis yang ditunjukkan dengan rendahnya tingkat kesuburan tanah ini mengindikasikan tingginya kerusakan lingkungan di kawasan lindung dataran Tinggi Dieng.

Permasalahan tersebut tidak hanya terjadi karena masyarakat yang melakukan konversi lahan hutan lindung menjadi lahan pertanian. Namun harus diatasi penyebab permasalahan tersebut. Berbagai pihak yang berpengaruh seperti pemerintah yang bertanggung jawab dalam perencanaan tata wilayah, pengentasan kemiskinan bagi masyarakat khususnya masyarakat petani di sekitar hutan, serta proyek-proyek yang mendukung kesejahteraan petani dengan penerapan konservasi lahan. Selain itu perlunya ormas-ormas ataupun LSM guna menyuluhkan sistem-sistem pertanian yang berkelanjutan agar tidak merusak ekologis yang ada. Apalagi Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) merupakan aset wisata yang sangat berharga yang memiliki ikon wisata alam yang menakjubkan dan kekayaan flora-fauna, kawasan wisata Dieng juga menyimpan khazanah wisata budaya dan religi, yakni tradisi ritual alam dan situs purbakala bangunan candi.

Berbagai stategi manajemen di wilayah Dataran Tinggi Dieng diperlukan untuk menyelesaiakan permasalahan degradasi lahan dengan berbasis masyarakat, konservasi alam dan kesadaran penuh terhadap pentingnya pertanian berkelanjutan.

BAB II

KARAKTERISITIK DAN PERMASALAHAN DATARAN TINGGI DIENG

2.1    Karakteristik Kawasan Dataran Tinggi Dieng

Dieng merupakan kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah berketinggian ± 2.095 meter di atas permukaan laut yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Secara administrasi, Dieng mencakup Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Hingga tahun 1990-an wilayah ini tidak terjangkau listrik dan merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah. Dataran tinggi Dieng adalah kawasan yang terletak di tengah-tengah Pulau Jawa (seumpama ditarik garis diagonal pada peta Pulau Jawa). Sedang letak astronomis ada pada sekitar 7,20º Lintang Selatan dan 109,92 º Bujur Timur dan pada ketinggian ketinggian ± 2.095m dpl. Mungkin kalau pada Google Earth bisa dimasukkan Latitude: -7,20 dan Longitude: +109,92.

Secara geologi Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Dieng terbentuk dari gunung api tua yang mengalami penurunan drastis (dislokasi), oleh patahan arah barat laut dan tenggara. Gunung api tua itu adalah Gunung Prau. Pada bagian yang ambles itu muncul gunung-gunung kecil yaitu: Gunung Alang, Gunung Nagasari, Gunung Panglimunan, Gunung Pangonan, Gunung Gajahmungkur dan Gunung Pakuwaja.

 Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Ketinggian rata-rata kawah tersebut adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letupan lumpur, tanah longsor dan banjir. letupan-letupan yang terjadi adalah karena tekanan air bawah tanah oleh magma yang menyebabkan munculnya beberapa gelembung-gelembung lumpur panas. Fenomena ini antara lain dapat dilihat pada Kawah Sikidang atau Kawah Candradimuka .

Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan. Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik (“suka panas”) yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin, berkisar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara terkadang dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas (“embun racun”) karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.

Selain terkenal dengan kawasan vulkanik aktif, di Dataran Tinggi Dieng juga terdapat beberapa peninggalan budaya dan alam yang telah dijadikan sebagai obyek wisata dan dikelola bersama oleh dua kabupaten, yaitu Banjarnegara dan Wonosobo. Berikut beberapa obyek wisata di Dieng diantaranya yaitu :

        Telaga Warna, sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah,  hijau, biru, putih, dan lembayung, Telaga Pengilon, Telaga Merdada.

        Sikidang, Sileri, Sinila (meletus dan mengeluarkan gas beracun pada tahun 1979 dengan korban 149 jiwa), Kawah Candradimuka.

  • Kompleks candi-candi Hindu yang dibangun pada abad ke-7, antara lain:

        Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Setyaki, Gangsiran Aswatama, dan Candi Dwarawati.

        Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur. Terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon, sering digunakan sebagai tempat olah spiritual.

  • Sumur Jalatunda.
  • Dieng Volcanic Theater, teater untuk melihat film tentang kegunungapian di Dieng.
  • Museum Dieng Kailasa, menyimpan artefak dan memberikan informasi tentang alam (geologi, flora-fauna), masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, kepercayaan, kesenian) serta warisan arkeologi dari Dieng. Memiliki teater untuk melihat film (saat ini tentang arkeologi Dieng), panggung terbuka di atas atap museum, serta restoran.
  • Mata air Sungai Serayu, sering disebut dengan Tuk Bima Lukar (Tuk = mata air).

Kawasan Dataran Tinggi Dieng ini merupakan daerah penting konservasi. Selain sebagai hulu DAS Serayu yang merupakan sungai dengan cakupan 6 kabupaten, kawasan Dieng juga merupakan habitat beragam satwa dilindungi yang sebagian diantaranya terancam punah. Beberapa spesies yang tercatat hidup di dataran tinggi Dieng antara lain : Harimau Tutul (Panthera pardus), mammalia endemic Jawa seperti Babi Hutan (Sus verrcosus), Owa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata), dan Lutung (Trachypithecus auratus), serta 19 species burung endemik Jawa termasuk diantaranya Elang Jawa (Spizaetus bartelsii). Juga terdapat tumbuhan spesifik yang hanya hidup di pegunungan Dieng yaitu Purwoceng (Pimplinea pruacen) yang dikenal sebagai tanaman obat.

2.2       Permasalahan Dataran Tinggi Dieng

   Persoalan Dieng adalah problematika lingkungan, sosial dan ekonomi yang saling tumpang tindih. Selama 3 dekade terakhir, kompleksitas persoalan tersebut telah mengubah wajah Dieng secara drastis, dari sebuah ”pesona keindahan alam” menjadi lahan yang terdegradasi dan berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan dalam skala yang besar.

Wajah Dieng dewasa ini adalah representasi dari problematik sosial ekonomi budaya yang akut: kepadatan penduduk yang cukup tinggi (kurang lebih 100 jiwa/km²) dengan pemilikan lahan yang rendah telah menyebabkan terjadinya tekanan terhadap kawasan lindung, dan sebagai akibatnya, adalah pengalihan fungsi lahan secara besar-besaran.

Konversi lahan ini menyebabkan terjadinya degradasi lahan yang parah. Lahan kritis yang sudah di atas ambang batas toleransi terjadi di mana-mana akibat pemanfaatan lahan hutan di kawasan Dieng secara besar-besaran untuk tanaman kentang. Sekitar 7.758 hektare (4.758 hektare di Banjarnegara dan 3.000 hektare di Wonosobo) sudah menjadi tanah kritis. Lahan kritis itu tetap bisa berproduksi, karena tanaman kentang dipacu dengan pupuk (kandang/kimia) dalam dosis besar. Tingkat erosi yang terjadi sudah mencapai mencapai angka 10,7 mm/tahun atau rata-rata sebesar 161 ton/hektare/tahun.

Pelan tapi pasti, beragam permasalahan yang timbul di Kawasan Dieng tersebut memberikan dampak pada kawasan sekitarnya, meliputi:

  1. Kerusakan hutan lindung, hutan produksi dan cagar alam;
  2. Kerusakan situs purbakala Candi Dieng yang merupakan peninggalan sejarah kebudayaan Hindu, dan sekaligus sebagai salah satu aset pariwisata budaya;
  3. Tingginya tingkat erosi dan sedimentasi tanah pada alur-alur sungai, telaga dan waduk;
  4. Tingginya penggunaan bahan-bahan kimia seperti pestisida dan insektisida dalam kegiatan pertanian di Kawasan Dieng;
  5. Semakin terdesaknya kelangsungan hidup populasi satwa langka seperti Elang Jawa (Spezaetus bartelsi);
  6. Kerusakan ekosistem pada Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu;
  7. Menurunnya debit mata air dan berakibat kelangkaan suplai air minum untuk masyarakat ;
  8. Menurunnya nilai-nilai keindahan kawasan sebagai obyek wisata alam dan wisata budaya/sejarah;
  9. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam ikut menjaga kelestarian lingkungan dan sumberdaya yang ada di kawasan dieng;
  10. Lemahnya penegakan hukum atas berbagai pelanggaran yang dilakukan; dan
  11. Konflik penggunaan lahan yang merembet kepada persoalan sosial budaya.

Berbagai permasalahan dan dampak yang ditimbulkannya masih terus terjadi sampai saat ini di Kawasan Dieng, baik pada lahan milik maupun dalam kawasan hutan negara. Apabila dianalisis lebih lanjut, akar permasalahan degradasi lahan dan lingkungan di Kawasan Dieng ini adalah:

(a)     Kecilnya tingkat kepemilikan lahan menyebabkan okupasi dan konversi lahan hutan lindung menjadi lahan pertanian;

(b)     Upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui budidaya kentang dengan dukungan investor dan perbankan yang tidak terkendali;

(c)     Tingkat kesadaran dan kepedulian publik yang rendah terhadap kerusakan sumber daya hutan, degradasi lahan dan lingkungan;

(d)     Kurang sinergisnya kebijakan lokal, provinsi dan nasional dalam hal degradasi SDH, lahan dan lingkungan;

(e)     Kurangnya koordinasi antar sektor dalam pembangunan wilayah; dan

(f)     Kurangnya integrasi penanganan masalah hutan, lahan dan lingkungan antar kabupaten baik di Kawasan Dieng maupun dalam lingkup DAS Serayu.

Di sisi lain, terdapat transformasi kesadaran lingkungan pada berbagai elemen stakeholder dalam dekade terakhir. Isu lingkungan telah menjadi isu global dengan keterkaitan (linkage) yang sangat erat dengan konteks lokal. Sejalan dengan hal tersebut, kepedulian pemerintah, dalam hal ini Departemen Kehutanan terhadap degradasi hutan dan lahan semakin meningkat terbukti dengan dimasukkannya rehabilitasi hutan dan lahan dalam salah satu dari 5 (lima) program strategis Departemen Kehutanan. Bentuk implementasi dari program tersebut adalah digulirkannya program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) sejak tahun 2003 sampai saat ini.

2.3       Permasalahan Dataran Tinggi Dieng dan Hubungannya dengan Dataran Rendah

  • Bencana alam tanah longsor

Longsor merupakan salah satu bencana alam yang antara lain disebabkan oleh faktor kemiringan lereng, material tanah, batuan, cuaca / hujan, tutupan vegetasi /pohon. Longsor pada umumnya terjadi pada musim penghujan, dengan didukung kemiringan lereng yang cukup terjal dan tutupan vegetasi/pohon yang jarang. Kejadian tanah longsor yang pernah terjadi yaitu di Desa Tieng, Kecamatan Kejajar Kab Wonosobo yang telah mengakibatkan kerusakan/kerugian rumah, lahan dan pertanian/perkebunan, serta korban meninggal dan luka-luka.

Situasi lahan yang berpotensi longsor di Wonosobo masih cukup banyak, hal ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Berdasarkan kondisi yang terlihat dalam gambar / foto tersebut adalah :

  1. kemiringan lereng sangat terjal
  2. banyak lahan kosong dan tidak ada tanaman
  3. tutupan lahan didominasi oleh lahan pertanian, bukan tanaman keras

Kondisi lereng tersebut mempunyai potensi bahaya yang masih mengancam kehidupan masyarakat setempat. Diantaranya adalah beberapa permukiman masih berada di daerah lereng tersebut, bahkan di daerah bawah lereng tersebut terdapat gedung sekolah. Jika tidak dilakukan tindakan yang cukup efektif dalam pengurangan risiko bencana, maka ancaman bahaya ini dapat memperburuk kehidupan masyarakat disekitarnya. Selain longsor, banjir lumpur yang menimpa warga kerap pula terjadi.

Kawasan Dataran Tinggi Dieng berperan sebagai hulu DAS Serayu yang merupakan sungai dengan cakupan 6 kabupaten. Namun akibat longsoran tanah dari Kawasan Dieng yang terbawa air mengakibatkan pengendapan di Sungai Serayu mencapai 13,7 milimeter kubik pada 2002, meningkat dari 2 milimeter kubik pada 1990. Menurut manager PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Mrica Banjarnegara, endapan lumpur  di hulu Dieng memperpendek umur teknis waduk hanya sekitar 13 tahun, dari seharusnya 30 tahun. Akibat lain, cadangan air tanah untuk masyarakat perkotaan Wonosobo yang mengandalkan PDAM, makin tipis.

Menurut Sri Wahyuni Direktur PDAM Wonosobo, 20 tahun lalu banyak pipa distribusi tak kuat menahan derasnya aliran air. Itu terjadi ketika Dieng masih memiliki hutan lindung yang lebat pohonnya. Kini, setelah hutan itu berubah menjadi lahan kentang, air PDAM hanya menetes di musim kering. Hanya memerlukan waktu 20 tahun untuk mengubah Deng yang subur dan berlimpah air menjadi bakal gurun.

  • Kesulitan sumber air bersih dan masalah sedimentasi akibat erosi

Masalah kesulitan air bersih dialami oleh masyarakat desa tertinggi di Dieng yaitu Desa Sembungan, yang terletak lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut yang memiliki suhu cukup dingin. Jalan  menuju desa ini searah dengan jalan menuju Telaga Warna yang merupakan salah satu obyek wisata yang cukup terkenal di Dieng.

Hampir semua penduduk desa ini adalah petani kentang, dengan beberapa petani yang mempunyai pertanian lain yaitu tanaman hias (bunga). Hampir seluruh lahan di desa ini adalah lahan kentang. Tidak banyak pohon yang banyak dijumpai, mungkin hanya beberapa pohon cemara gunung atau tanaman Carica yang letaknya pun terpisah-pisah dari bukit satu ke bukit yang lain.

Di desa tersebut terdapat sebuah telaga yang disebut Telaga Cebong dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, terjadi sedimentasi, pendangkalan dan eutrofikasi (suburnya perairan akibat akumulasi hara oleh aliran air). Dengan dikelilingi bukit-bukit yang terbuka, maka erosi akan masuk ke telaga dan menimbulkan pendangkalan. Pupuk-pupuk yang terbawa erosi pun akhirnya terakumulasi di telaga yang menimbulkan eutrofikasi terlihat dari keruhnya air dan banyaknya tanaman eceng gondok di sekitar telaga ini. Hal tersebut sungguh sangat disayangkan, karena telaga Cebong sangat berpotensi untuk berbagai macam kebutuhan, terutama sebagai sumber air mengingat di daerah dengan ketinggian ini sumber air sangat terbatas.

Sumber air bersih di wilayah tersebut berasal dari mata air, yang dari waktu ke waktu semakin menurun baik jumlah maupun kualitas airnya. Tidak terdapat sumber air lain seperti air tanah, dan sumber air di telaga yang tersedia sudah tercemar dan sepertinya tidak layak konsumsi. Kadang kala jika musim kemarau tiba, air harus didatangkan dari bawah untuk mensuplai kebutuhan air di Desa Sembungan.z

Selain Desa Sembungan, krisis air bersih di wilayah Dataran Tinggi Dieng juga dialami oleh warga di Desa Dieng Kulon dan Desa Pawuhan, Kecamatan Batur, Banjarnegara, yang  tak dapat mengonsumsi air sumur karena tercemar limbah kimia. Sumber mata air di dataran tinggi pada musim kemarau di Dieng banyak yang mati sehingga tidak dapat diharapkan sebagai sumber air bersih. Air sumur bau dan beracun. Tercemarnya air sumur milik warga di Dieng Kulon dan sebagian Pawuhan disebabkan pencemaran dari limbah sejumlah instalasi industri gas di Dataran Tinggi Dieng. Selain itu, penggunaan pestisida bertahun-tahun untuk menyuburkan tanaman kentang diduga juga telah mencemari air tanah di wilayah tersebut. Untuk mendapatkan air bersih, warga memilih untuk mengambil air tiap pagi dan sore di sumber air lereng Gunung Perahu. Air bersih dialirkan dengan sebuah pipa paralon berdiameter 3 cm ke bak penampungan. Sayangnya, dari waktu ke waktu debitnya kian kecil. Selain karena musim kemarau yang semakin memuncak, sebagian besar kawasan Dieng kini tak memiliki tegakan keras sebagai penyimpan air tanah. Sebagian besar lahan sudah beralih fungsi menjadi ladang kentang.

 

BAB III

STRATEGI MANAGEMEN KAWASAN DATARAN TINGGI DIENG

DAN TINGKATAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK MENYELESAIAKAN PERMASALAHAN YANG ADA

3.1       Stategi Program Pemulihan Dieng dan Para Stakeholder yang Terkait

Sampai saat ini proses degradasi hutan dan lahan di kawasan Dieng masih terus berlangsung sebagai dampak dari permasalahan ”akut” yang terjadi di kawasan ini. Kepedulian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk rehabilitasi hutan dan lahan semakin meningkat yang ditunjukkan dalam bentuk rencana strategis dan rencana kerja pembangunan nasional dan daerah, akan tetapi program-program yang digulirkan tersebut masih berupa program parsial dan kurang efektif dalam implementasinya.

Untuk mengintegrasikan berbagai program dan rencana pemerintah, NGO, dan masyarakat yang ditujukan untuk penyelesaian masalah degradasi hutan dan lahan di Kawasan Dieng, diperlukan suatu program dan effort bersama di antara para pihak yang berpengaruh dan berkepentingan terhadap pemulihan kawasan Dieng ini, yang tentu saja selain kerja bersama akan diperlukan dana yang cukup besar.

Untuk kepentingan itulah, diperlukan suatu inisiatif bersama yang disebut sebagai Program Pemulihan Dieng (PPD) atau Dieng Plateau Recovery Program yang dimaksudkan untuk mencapai skema dan kesepakatan bersama dalam penyelesaian permasalahan yang berdampak pada degradasi kawasan Dieng. Dengan skema bersama ini, diharapkan program akan memperoleh dukungan parapihak, sekaligus memberikan menyiapkan pendekatan yang holistik untuk meningkatkan efektifitas program yang selama ini dilakukan secara parsial. Sebuah skema bersama penanganan masalah Dieng tersebut dibangun, sehingga program-program pada berbagai bidang bisa bermuara pada tujuan bersama, terpadu dan berkelanjutan.

Kawasan Dieng dipilih karena memang kawasan ini merupakan hulu dari DAS Serayu yang merupakan salah satu sungai terpanjang di Jawa; kawasan ini mengalami laju degradasi hutan, lahan dan lingkungan yang sangat cepat; kawasan ini mencakup 3 wilayah kabupaten dan mempunyai dampak terhadap 6 kabupaten; adanya dukungan pemerintah pusat dan daerah; serta saat ini sedang berjalan usaha dan inisiatif bersama antara pemerintah, NGO, Masyarakat dan Donor Internasional untuk pemulihan kawasan ini dalam bentuk Program Pemulihan Dieng (PPD).

Program Pemulihan Dieng (PPD) atau program penyelamatan Dieng dari kerusakan lingkungan memerlukan kesamaan persepsi 6 daerah karena Pegunungan Dieng berada di enam kabupaten yaitu Banjarnegara, Wonosobo, Kendal, Batang, Pekalongan, dan Temanggung, caranya yaitu dengan melakukan inventarisasi dan identifikasi peraturan-peraturan yang sudah ada.

Selain itu diperlukan kehadiran stakeholder-stakeholder berupa lembaga di luar pemerintahan, termasuk masyarakat di sekitarnya. Hal tersebut dilakukan dalam rangka menyerap isu-isu lingkungan. Masyarakat di kawasan Dieng janganlah dijadikan penyebab masalah. tetapi dijadikan target untuk bersama-sama melestarikan kawasan Dieng.

Permasalahan yang dihadapi di kawasan Dieng memang sangat kompleks. Tidak hanya masalah konservasi, tapi juga budaya, pariwisata, serta pertanian. Khusus di Batang, penanganan di Dieng ditangani oleh Bagian Lingkungan Hidup dan Produksi. Itu karena menitikberatkan pada aspek pelestarian lingkungan dengan melibatkan berbagai instansi untuk bersama-sama bergabung seperti Kantor Kehutanan dan Perum Perhutani menyangkut konservasi, dengan Dinas Pariwisata menyangkut situs purbakala, dan dengan Dinas Pertanian yang berkaitan dengan agroekonomi.

Berbagai kegiatan seperti seminar nasional dan workshop mengenai isu-isu lingkungan di kawasan Dieng diperlukan dalam rangka berbagi pengetahuan dalam mengembangkan pengelolaan kawasan Pegunungan Dieng, serta merumuskan konsep dan strategi pengembangan ke depan.

Strategi Tim Kerja Pemulihan Dieng

Penciptaan kondisi yang diperlukan untuk implementasi program yang meliputi raising awareness bagi publik secara luas untuk pemulihan kawasan terdegradasi, konseptualisasi solusi dari permasalahan kelembagaan dan operasional yang masih dihadapi sampai saat ini serta dukungan dalam bentuk legal dan legislasi dalam pengelolaan lahan berkelanjutan yang mencakup pencegahan konflik, kepastian kawasan, perencanaan, implementasi dan monev secara kolaboratif, serta penyiapan pendanaan dari berbagai pihak (pemerintah pusat, pemda dan parapihak lain).

Strategi kedua difokuskan pada penyelarasan pengetahuan dan nilai-nilai lokal bersama-sama dengan pengetahuan berbasis penelitian sebagai dasar untuk mendisain, ujicoba serta implementasi pengelolaan lahan berkelanjutan dan rehabilitasi kawasan berbasis masyarakat. Dalam Masyarakat akan berpartisipasi dalam evaluasi jasa-jasa lingkungan, identifikasi dan promosi praktek-praktek terbaik. Selain itu akan dikembangkan skema-skema insentif tidak langsung, serta pertukaran dan disseminasi informasi hasil implementasi program sebagai bahan pembelajaran bersama.

Strategi ketiga difokuskan pada pelibatan parapihak secara luas dalam membangun strategi bersama dalam konteks pengelolaan lahan dan rehabilitasi kawasan yang terintegrasi secara kolaboratif untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pada level DAS, akan dikembangkan kesepakatan dan perencanaan  antar wilayah dalam konteks konservasi dan pemanfaatan air, perlindungan habitat prioritas, serta pengelolaan kawasan terdegradasi. Perencanaan pengelolaan kawasan berbasis masyarakat dan pengetahuan-pengetahuan yang tepat akan dibangun dan diimplementasikan dalam bentuk pilot-pilot site.

3.2       Kebijakan Perda Berupa Pengelolaan Sumber Daya Hutan Berbasis Masyarakat (PSDHBM)

Adanya tiga persoalan utama kehutanan di Wonosobo yang menyangkut; persoalan ekologis berkaitan dengan degradasi sumberdaya hutan; peningkatan kesejahteraan masyarakat berkaitan dengan fenomena kemiskinan di desa sekitar hutan; dan upaya penyelesaian berbagai konflik kepentingan di sektor kehutanan terutama menyangkut sistem tata kuasa dan tata kelola hutan. Serta melalui peluang otonomi daerah dengan disahkanya Undang-undang No 22 Tahun 1999. Pada tahun 2001 lahirlah Perda No 22 tentang Pengelolaan Sumberdaya Hutan Berbasis Masyarakat yang kemudian dikenal dengan Perda PSDHBM. Perda ini merupakan perda inisiatif pertama dari DPRD yang lahir dari proses panjang belajar dari kearifan lokal masyarakat bagaimana mengelola hutan.

Untuk proses konsultasi dan diskusi maka dikeluarkanlah Surat Keputusan Bupati Wonosobo Nomor 522/200/2001 yang membentuk FKP3H (Forum Koordinasi Penanganan Penjarahan dan Penataan Hutan), anggotanya berasal dari berbagai unsur seperti pemerintah daerah (Dishutbun, Bappeda, Kantor Sospol, Bagian LH, Bagian Hukum, Bagian Ketertiban, Bagian Perekonomian dan Bagian Humas), DPRD (Komisi A dan Komisi B), Perhutani (KPH Kedu Utara dan KPH Kedu Selatan), kalangan pers (Jawa Pos, Wawasan, RPS, Poles dan PWI Wonosobo), masyarakat desa hutan (tokoh masyarakat dari Desa Bogoran, Jangkrikan dan Tlogo) dan ornop (Arupa, Koling, dan Pelita Garuda), dengan juga melibatkan pengadilan dan kejaksanaan negeri setempat.

Melalui proses inisiasi, dialog dan penyerapan aspirasi, serta kajian dengan para pakar, LSM, dan kalangan Perguruan Tinggi memerlukan waktu hampir 2 (dua) tahun lahirlah Perda PSDHBM.

Dengan disahkannya Perda 22/2001 tentang Pengelolaan Sumberdaya Hutan Berbasis Masyarakat (PSDHBM), diharapkan akan terjadi perubahan sistem pengelolaan hutan di Wonosobo. Arah perubahan yang tersebut dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1. Perubahan Sistem Pengelolaan hutan di Wonosobo dengan PSDHBM

No. Poin Perubahan Semula Detail Perubahan
1 Pengelola hutan Pengelolaan hutan dilakukan oleh Perhutani Pengelolaan hutan dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo bersama kelompok masyarakat yang diberi ijin kelola.
2 Peran serta Masyarakat Masyarakat adalah salah satu pihak dalam kerjasama pengelolaan hutan. Masyarakat tidak berhak menentukan pola dan jenis tanaman pokok. Masyarakat adalah pelaku utama pengelolaan hutan. Masyarakat dapat menentukan pola dan jenis tanaman pokok.
3 Rencana pengelolaan Berdasarkan rencana perusahaan Perhutani yang disusun oleh seksi perencanaan hutan (SPH) Berdasarkan perencanaan secara partisipatif oleh masyarakat
4 Jenis dan pola tananaman Pada suatu kawasan umumya seragam (monokultur) sesuai dengan kelas perusahaan: pinus, mahoni, damar, jati Jenis dan pola tanaman dapat bermacam-macam ( muti layer dan multicrop )sesuai hasil perencanaan masyarakat.
5 Jangka waktu pengelolaan oleh masyarakat Masyarakat dapat terlibat kegiatan di kawasan hutan selama 2 tahun dan dapat diperpanjang Ijin pengelolaan diberikan selama-lamanya 30 tahun dengan masa evaluasi 6 tahun

Salah satu tujuan disahkannya perda PSDHBM adalah dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat desa sekitar hutan. Tujuan ini sekaligus menjadi salah satu azas dalam pelaksanaan PSDHBM yakni asas kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan, yaitu dimaksudkan agar PSDHBM dapat turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat secara terus-menerus. Secara ekonomis setidaknya kita bisa melihat manfaat ekonomi yang timbul dengan inisiatif ini:

  • Peningkatan pendapatan petani dan masyarakat sekitar hutan

Pada gilirannya analisa usaha dengan praktek pengelolaan hutan negara bermanfaat untuk menghitung bagi hasil (production sharing) kayu yang dapat diberikan kepada pihak lain (pemda, desa, kelompok tani, pihak lain) selama masa daur pengelolaan. Hal ini yang tidak pernah terjadi selama pengelolaan hutan oleh Perhutani dimana bagi hasil kayu telah ditetapkan berdasarkan rumus, dengan manfaat bagi hasil kepada masyarkat maksimal 25% di akhir daur pengelolaan.

Peningkatan pendapatan juga didapatkan oleh petani dengan tanaman pertanian di sela-sela tanaman pokok layaknya di hutan rakyat. Biasanya pada tahun pertama pengelolaan kawasan hutan akan ditanami tanaman ketela pohon di sela-sela tanaman pokok yang masih kecil. Hasil ini menurut masyarakat desa sekitar hutan cukup besar dan sangat berarti dibandingkan jika mereka hanya mengandalkan hasil produksi dari lahan milik. Apabila pola hutan rakyat telah benar-benar dapat diterapkan di hutan negara maka secara ekonomi akan lebih banyak manfaat yang dapat diterima masyarakat.

Bukan hanya karena untuk usaha pertanian dan agar kehutanan menjadi semakin besar namun juga banyak aspek ekonomi yang secara tidak langsung akan dinikmati dengan mengelola hutan negara secara lestari. Salah satu yang penting adalah masalah tata air, dimana ketika hutan gundul sumber mata air sangat berkurang sehingga mengganggu suplai air untuk lahan persawahan. Saat ini dengan telah terehabailitasinya sebagian besar hutan negara yang mengalami penjarahan, lambat laun suplai air berangsur normal sebagaimana ketika hutan masih utuh.

  • Peningkatan perekonomian wilayah desa

Peningkatan lahan garapan di kawasan hutan negara secara langsung juga berperan dalam meningkatkan perekonomian wilayah pedesaan. Produksi pertanian yang naik, produksi kayu rakyat yang juga meningkat akan semakin menggairahkan roda perekonomian di desa. Selain itu semakin berkembangkan usaha pembibitan di pedesaan dikarenakan permintaan bibit untuk penanaman di kawasan hutan negara demikian besar. Usaha pembibitan dapat menjadi usaha di tingkat dusun atau desa yang dapat menyerap tenaga kerja dan akan memberikan nilai tambah secara ekonomi kepada pengelolaanya.

Dalam jangka panjang sebenarnya keberdayaan ekonomi di tingkat pedesaan inilah yang perlu terus dipacu. Keberdayaan masyarakat di pedesaan pada gilirannya akan menumbuhkan keswadayaan dalam pembangunan desanya.

  • Pendapatan daerah

Perda PSHBM bukanlah inisiatif daerah yang semata-mata ingin mengejar pendapatan asli daerah bahkan secara tegas perda ini tidak secara langsung mengatur bagaimana mengenai pendapatan berkaitan dengan PSDHBM. Perda ini hanya mengatur bahwa terhadap hasil hutan kayu yang diperdagangkan yang diperoleh dari PSDHBM, dikenakan provisi sumber daya hutan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.(Pasal 33 ayat 1). Apabila perda PSDHBM ini telah dilaksanakan secara efektif pendapatan yang akan diterima daerah akan sangat besar.

Dalam Perda No 22 Tahun 2001 tentang PSDHBM Wonosobo, tidak diatur proporsi bagi hasil pengelolaan hutan negara, namun masyarakat pengelola memiliki kesadaran untuk berbagi hasil dengan pihak pemerintah daerah dan pihak lain yang terlibat. Angka bagi hasil yang sering terungkap oleh masyarakat adalah 75% untuk masyarakat dan 25% pihak lain, dimana seluruh input pengelolaan berasal dari masyarakat.

3.2       Konsep Model Konservasi Kawasan Dieng dengan Menggunakan Contoh Dua Desa

Dua desa di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, yakni Desa Buntu dan Kreo, Kecamatan Kejajar, akan menjadi model konservasi kawasan Dataran Tinggi Dieng yang saat ini kondisi lingkungannya rusak berat. Desa model konservasi tersebut merupakan konsep memulihkan daya dukung kawasan dan sekaligus mencoba membantu meningkatkan perekonomian serta kesejahteraan masyarakat berbasis desa.

Di Desa Buntu dan Desa Kreo tersebut terdapat empat pilar yang digali demi tujuan besar mengembalikan fungsi lindung dengan mengedepankan penguatan ekonomi produktif masyarakat. Adapun pilar-pilar tersebut yaitu terdiri dari :

  • Pilar pertama diwujudkan dalam bentuk rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDes) partisipatif yang berbasis kepada tata ruang desa.
  • Pilar kedua yaitu praktik pertanian ramah lingkungan di lahan milik warga yang diperluas dengan mengadopsi nilai lokal dan kesediaan mereka mengubah cara bertani intensif menjadi model pertanian terpadu.
  • Pilar ketiga berupa kemitraan pengelolaan hutan secara berkelanjutan sebagai suatu konsep yang rasional mengingat hampir semua desa di Kawasan Dieng memiliki areal hutan negara.

Kesepahaman dan kerja sama pengelolaan dibangun antara Perhutani dengan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) setempat dengan prinsip kemitraan yang saling menguntungkan kedua pihak.

  • Pilar keempat, berupa konsep badan usaha milik desa berbasis ternak sebagai model penguatan ekonomi produktif lokal yang menekankan semangat kebersamaan dan menggunakan pendekatan lingkungan sebagai basis pemikiran.

Empat pilar tersebut saling terkait. Kelembagaan dan perencanaan partisipatif, memasukkan unsur pemulihan lingkungan, diimplementasikan dalam praktik pertanian ramah lingkungan baik di lahan milik maupun kerja sama pengelolaan hutan yang berprinsip kepada keseimbangan ekologi, ekonomi, sosial, dan budaya.

Diharapkan pula Badan Usaha Milik Desa (BUMdes) memberi solusi ekonomi sekaligus meningkatkan modal sosial masyarakat seperti kesediaan untuk berkorban dan kerelaan untuk berbagi demi kelestarian lingkungan serta peningkatan ekonomi secara kolektif. Pilihan komoditas dalam BUMdes di Desa Buntu yaitu pembibitan akan menopang praktik peternakan masyarakat melalui jaminan benih ternak yang berkualitas sekaligus perlindungan plasma nutfah. Tidak menutup kemungkinan, apabila keempat pilar di atas bisa bersinergi secara positif, pilar kelima yaitu praktik pariwisata lingkungan akan tercipta dengan sendirinya.

Pemkab setempat akan mengangkat konsep tersebut menjadi salah satu butir rekomendasi rencana penyelamatan Dieng Tahun 2010-2014. Pemerintah Kabupaten wonosobo menawarkan konsep tersebut untuk diadopsi dalam program kerja Tim Pembina Penataan Kawasan Dieng (TPPKD) Provinsi Jawa Tengah.

3.3       Kegiatan-Kegiatan dalam Rangka Peningkatan Kesadaran Terhadap SDA

            Adanya Sarasehan Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan Dataran Tinggi Dieng, meliputi kegiatan pelatihan lingkungan hidup, penguatan kelembagaan petani, pengkaderan lingkungan hidup dan aksi penanaman pohon. Rangkaian kegiatan ini dilakukan dalam rangka peningkatan kesadaran, kepedulian dan peran aktif masyarakat pedesaan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan pelestarian lingkungan hidup, sehingga diharapkan dapat tumbuh tuntutan (demand) dari masyarakat untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta timbul inisiatif lokal masyarakat untuk mengatasi permasalahan lingkungan hidup di sekitarnya.

Permasalahan lingkungan hidup yang terjadi di Dataran Tinggi Dieng sebenarnya merupakan resultante dari berbagai macam faktor yang melingkupi kehidupan petani atau masyarakat yang melakukan pemanfaatan lahan yang didorong untuk mendapatkan hasil maksimal dalam jangka pendek, tanpa memperhatikan dampaknya. Oleh karena itu, dinamika upaya pelestarian dan pengelolaan lingkungan di Dataran Tinggi Dieng tidak lepas dari berbagai faktor penentunya, salah satu aspek yang sangat signifikan adalah kepedulian masyarakat yang mempunyai kepentingan dan manfaat dari apa yang dilakukanya. Melalui pengkaderan lingkungan, diharapkan kepedulian masyarakat Dataran Tingi Dieng dapat ditingkatkan dan masyarakat mampu berinisiatif lokal dalam menghadapi masalah lingkungan di sekitarnya serta mampu mengelola sumber daya alam (SDA) dan melestarikan lingkungan hidup.

Hasil yang dicapai dari Sarasehan Nasional Pemberdayaan Masyarakat adalah dikukuhkannya 150 kader petani peduli lingkungan hidup dan tertanamnya 4000 pohon pada lahan pertanian masyarakat, serta terbangunnya komitmen kesepakatan 3 (tiga) Bupati (Wonosobo, Banjarnegara dan Batang) dalam pengelolaan lingkungan hidup Dataran Tinggi Dieng yang dinyatakan dalam penandatangannan piagam kesepakatan.

3.4       Program Penyelamatan Bencana

Sebagai Instansi yang bertanggungjawab dalam penanggulangan bencana BPBD Provinsi Jawa Tengah tidak tinggal diam dan langsung melakukan tindakan sesuai dengan rancana operasi tanggap darurat, BPBD memberikan respon dengan mengirimkan Tim SAR dan material logistic bencana dalam hitungan jam. Setelah periode bencana, tersebut, BPBD memberikan perhatian dengan memfokuskan dan melaksanakan kegiatan Budaya Sadar Bencana di daerah Wonosobo ini, tepatnya di daerah Desa Tambi. Diharapkan didesa ini selain menyadarkan masyarakat terhadap bencana, tetapi juga mempertahankan kearifan lokalnya, dimana desa ini merupakan tempat industri teh.

Dari analisis keseluruhan dari bencana longsor tersebut ada baiknya :

  1. Lokasi permukiman yang berbahaya dipindahkan (translokasikan) ke lokasi yang lebih aman. Mekanisme ini dapat dilakukan dengan menggunakan tanah milik pemerintah
  2. Penanaman kembali daerah lereng gundul dan menfungsikannya sebagai daerah resapan air. Hal ini dapat bekerjasama dengan dinas kehutanan atau perkebunan terkain dengan melibatkan masyarakat sekitar
  3. Perlu segera dibentuk BPBD Kabupaten Wonosobo sehingga penanganan bencana di wilayah tersebut dapat lebih focus dan terarah sehingga memperoleh manfaat yang lebih besar
  4. Perlu dibentuk regionalisasi BPBD tingkat Jawa Tengah mengingat lokasi yang cukup jauh untuk mensupport kebutuhan logistic di Jawa Tengah terutama yang lokasinya jauh dari Semarang.

3.5       Kebijakan Perencanaan Strategis Guna Mengembangkan Kawasan Dieng sebagai Destinasi Wisata Unggulan

Konsep konservasi terhadap kerusakan lahan di Dataran Tinggi Dieng tidak hanya dilihat dari segi lingkungan saja karena memang permasalahan tersebut merupakan masalah kompleks mencakup ekologi budaya dan pariwisata di sekitar Dtaran Tinggi Dieng. Oleh karena itu perlu diamati perencanaan strategis yang kompleks guna pengembangan kawasan Dieng. Secara internal, ada tiga potensi utama wilayah Dieng, yang dapat menjadi aset dalam pembangunan wilayah, antara lain:

  1. Pertanian

Apa yang telah terjadi di kawasan Dieng adalah contoh eksploitasi alam demi tujuan ekonomi, yang mengakibatkan kerusakan lingkungan. Pengalihan fungsi hutan lindung menjadi lahan pentanian─terutama untuk budidaya kentang─telah terjadi dan sulit dicegah. Pada tahun 90-an, budidaya kentang memang memberikan keuntungan signifikan pada sektor pertanian, dengan harga jual relatif tinggi dan modal yang tidak seberapa, keuntungan yang diraih membuat petani mengalami peningkatan kesejahteraan. Namun saat ini, tingginya penggunaan bahan kimia dan serangan hama, telah membuat produksi kentang menurun namun biaya operasionalnya semakin mahal. Akibatnya, keuntungan yang diperoleh dari penjualan kentang tidak besar. Keadaan seperti ini diperparah dengan tingginya inflasi, sehingga kesejahteraan para petani di kawasan Dieng  lima tahun terakhir  berada di titik nadir. Banyak petani yang beralih profesi atau meminjam dana pihak ketiga guna memenuhi biaya operasional dan kebutuhan hidup.

            Oleh karena itu, harus ada upaya terpadu guna mengalihkan pertanian menjadi pengembangan sektor agribisnis. Agribisnis dapat mendukung pengembangan dan mempromosikan agroindustri di wilayah Dieng. Lahan-lahan kritis bisa dimanfaatkan menjadi pusat pengembangan. Produk yang dikembangkan antara lain jamur, teh, dan tembakau. Sedangkan untuk lahan-lahan kritis diupayakan tumbuhan yang mampu mengembalikan keseimbangan dan menjaga kepadatan tanah, sehingga longsor dapat dicegah.

            Agar tetap dapat bersaing, produk pertanian harus dikembangkan menjadi industri olahan. Artinya, harus ada industri yang dapat menampung produk pertanian dari masyarakat dan diolah menjadi produk jadi, misalnya keripik jamur, atau tanaman herbal purwaceng menjadi produk siap saji. Sejalan dengan pengembangan industri olahan, target pemasaran yang baru harus segera ditentukan untuk menyalurkan hasil produksi olahan dari petani lokal. Tentu saja produk tersebut harus bernilai jual tinggi untuk kemudian disebarluaskan di pasaran setempat maupun pasar ekspor.

  1. Pariwisata

Pariwisata memberikan dukungan ekonomi yang kuat dan dapat menjadi aset ekonomi bagi suatu wilayah. Industri pariwisata kawasan Dieng dapat menghasilkan pendapatan besar bagi perekonomian lokal. Sebagai salah satu destinasi wisata, kawasan Dieng jika dikelola secara optimal, dapat menjadi sumber penghasilan utama masyarakat lokal, juga pemerintah. Mengingat sumber alam yang tak terbatas dan terbarukan, hal penting yang harus diperhatikan adalah kemasan produk wisata. Diperlukan kreatifitas dan ide-ide segar, sehingga produk yang ditawarkan benar-benar bisa membuat wisatawan mengalami sensasi wisata, yang lain daripada yang lain. Dengan begitu, kawasan Dieng akan menjadi daya tarik wilayah, dan kemudian dapat mengundang kedatangan wisatawan.

            Ada beberapa potensi wisata yang dapat dikembangkan di kawasan Dieng, antara lain:

(1) Wisata ekologi.

Konsep wisata yang diarahkan pada lanskap dan fenomena alam di kawasan Dieng. Ekologi Dieng yang  epidemik dengan habitat yang masih asli dapat menjadi landasan bagi terwujudnya wisata ekologi. Membangun kawasan Dieng dengan berbagai aktivitas seperti berkuda, menjelajah gua-gua alam, telaga, dan kawah, berkemah, akan menjadi atraksi utama dari wisata ekologi.

(2) Wisata budaya,

Segmen yang berkembang pesat dari industri pariwisata. Karakter dari desa/kota kecil dan komunitas merupakan daya tarik utama bagi wisatawan. Ini sangat menarik untuk dikembangkan, karena kawasan Dieng mempunyai karakteristik komunitas dan budaya yang khas. Misalnya keberadaan anak-anak berambut gembel (gimbal) dan proses ritual ruwatan bagi mereka.

(3) Wisata Sejarah.

Kawasan Dieng yang menyimpan banyak kekayaan budaya adalah bukti tingginya peradaban masyarakat Indonesia di masa lampau. Oleh karena itu, wisata sejarah dapat menjadi daya tarik destinasi wisata Dieng, sekaligus melestarikan peningalan arkeologis tersebut. Melalui aktivitas wisata ke berbagai peninggalan sejarah, para wisatawan dapat menikmati sensasi berwisata yang berbeda dengan destinasi wisata lainnya.

(4)  Agrowisata.

Sering juga disebut sebagai agrowisata atau wisata pertanian (farm tourism). Dalam wisata pedesaan, wisatawan tidak hanya melihat areal dan terlibat dalam aktifitas pertanian, tetapi juga segala aktivitas masyarakat desa yang dikunjunginya, seperti atraksi budaya, pembuatan kerajinan, seni pertunjukan, kuliner, dan sebagainya. Pengembangan agrowisata ini secara langsung akan berhimpitan dengan agroindustri yang ada di kawasan Dieng.

  1. Lingkungan

Potensi lingkungan kawasan Dieng penting bagi pengembangan dunia usaha untuk melakukan investasi. Pengembangan wilayah Dieng  tidak bisa dibebankan kepada pemerintah, tapi juga harus melibatkan dunia usaha. Oleh karena itu, jika pengembangan wilayah optimal, maka lingkungan sosial dan non-sosial harus dikembangkan sedemikian rupa guna mendukung masuknya investasi tersebut. Lingkungan sosial bisa diartikan sebagai kondisi masyarakat yang siap menerima keanekaragaman, identitas, sikap bersahabat, kepentingan dan perubahan orientasi, juga pola hidup. Saat ini kondisi sosial masyarakat Dieng sangat kondusif apabila dilihat secara kasatmata, namun menyimpan berbagai potensi disharmonis dan ketegangan-ketegangan, antara lain terlihat dengan adanya dikotomi antara kawasan Dieng Kulon, yang secara administratif merupakan wilayah Banjarnegara dengan Dieng Wetan, yang masuk wilayah administratif Wonosobo. Secara tidak sadar, ada semacam persaingan di antara kedua wilayah tersebut. Contoh lainnya adalah penolakan dari pemeluk agama Islam terhadap keberadaan kawasan Dieng sebagai tempat beribadah umat Hindu-Siwaistik. Ada isu bahwa pembangunan sebuah tempat ibadah di kawasan Dieng mengalami penolakan dari kelompok mayoritas yang notabene beragama Islam. Lingkungan sosial semacam ini menjadi masalah bagi pengembangan wilayah Dieng secara keseluruhan.  Solusi yang dapat dilakukan adalah menyatukan kawasan Dieng di bawah koordinasi pemerintah provinsi.

            Selain lingkungan sosial, lingkungan non-sosial, seperti sarana umum merupakan pendukung kegiatan bisnis yang penting. Tingkat kenyamanan hidup pada suatu wilayah dapat dilihat dari ketersediaan sarana umum di wilayah tersebut. Sarana umum merupakan kerangka utama dari pembangunan ekonomi dan sangat penting bagi aktivitas masyarakat. Sarana umum yang paling dasar adalah jalan, pembangkit listrik, sistem pengairan, sarana air bersih, penampungan dan pengolahan sampah dan limbah, sarana pendidikan seperti sekolah, taman bermain, ruang terbuka hijau, sarana ibadah, dan aksestabilitas. Aksestabilitas atau kemampuan wilayah Dieng untuk mengefisienkan pergerakan orang, barang dan jasa adalah komponen pembangunan ekonomi yang penting. Suatu wilayah perlu memiliki akses transportasi menuju pasar secara lancar. Jalur jalan yang menghubungkan suatu wilayah dengan kota-kota lebih besar merupakan prasarana utama bagi pengembangan ekonomi wilayah. Maka perencanaan pembangunan seharusnya dapat memprediksikan arah pembangunan yang akan berlangsung sehingga dapat dibuat sarana umum sesuai dengan perubahan yang terjadi.

            Berdasarkan tiga potensi di atas, terlihat adanya pola yang bersinggungan antara potensi pertanian, pariwisata dan lingkungan, dalam sektor pariwisata. Sektor agribisnis bila dikembangkan secara optimal, akan mendukung terwujudnya agrowisata, dan potensi lingkungan yang ada seharusnya diarahkan untuk mendukung kawasan Dieng menjadi kawasan destinasi wisata unggulan.

BAB IV

KESIMPULAN

Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) merupakan aset wisata yang sangat berharga. Lokasi wisata di wilayah Wonosobo dan Banjarnegara tersebut merupakan  salah satu andalan provinsi Jawa Tengah. Selain memiliki ikon wisata alam yang menakjubkan dan kekayaan flora-fauna, kawasan wisata Dieng juga menyimpan khazanah wisata budaya dan religi, yakni tradisi ritual alam dan situs purbakala bangunan candi.

Selain menyimpan berbagai macam potensi yang besar, kawasan ini juga merupakan kawasan rawan bencana. Hal ini mungkin diperparah dengan adanya ancaman degradasi hutan yang disebabkan oleh pengalihan fungsi hutan oleh masyarakat. Akibat permasalahan Degradasi Lingkungan,ironis, pegunungan Dieng yang dikenal bagaikan “negeri di atas awan” dari waktu ke waktu terus mengalami kerusakan. Degradasi lingkungan dan ekploitasi lahan sudah memasuki tahap mengkhawatirkan. Berdasarkan catatan Tim Kerja Pemulihan Dieng, sekitar 7.758 hektare hutan lindung dan lahan warga,  terdiri 4.758 hektare di Banjarnegara dan 3.000 hektare di Wonosobo itu kritis. Itu semua akibat pembukaan lahan hutan dan ekploitasi lahan pertanian. Tingkat erosi yang terjadi sudah mencapai hitungan angka 10,7 mm per tahun atau rata-rata  sebesar 161 ton per hektar per tahun.

Berbagai dampak bencan alam seperti banjir lumpur dan tanah longsor, sedimentasi akibat erosi serta sulitnya mencari air bersih di kawasan Dieng. Ini  menjadi bukti sekaligus peringatan bahwa dataran tinggi Dieng harus segera diselamatkan. Hal ini merupakan tantangan bagi pemerintah setempat, pemerhati lingkungan , pengelola kawasan tinggi Dieng, serta masyarakat khususnya masyarakat desa hutan untuk dapat merumuskan sistem tata kelola dengan baik. Oleh karena itu diperlukan wawasan utuh tentang berbagai aspek kehidupan di kawasan ini, sehingga diharapkan mampu membuahkan kebijakan untuk mewujudkan sistem tata kelola kawasan yang tepat dan bermanfaat.

Inisiatif Pemkab Wonosobo menggandeng Pemkab Banjarnegara dan Pemprov Jateng membentuk Tim Kerja Program Pemulihan Dieng patut didukung semua pihak.
Sebab tanpa dukungan masyarakat dan stakeholder lain yang peduli terhadap nasib Dieng, upaya Dieng Plateau Recovery Program (Program Pemulihan Dieng) tidak akan cepat terwujud. Strategi lain mengentaskan masalah Dieng yaitu disahkannya Kebijakan Perda Berupa Pengelolaan Sumber Daya Hutan Berbasis Masyarakat (PSDHBM) yang dapat meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat sekitar hutan, perekonomian wilayah desa, serta pendapatan daerah. Selain itu diajukan pula Konsep Model Konservasi Kawasan Dieng dengan Menggunakan Contoh Dua Desa, yaitu Desa Buntu dan Kreo, Kecamatan Kejajar yang merupakan desa model konservasi dengan konsep memulihkan daya dukung kawasan dan sekaligus mencoba membantu meningkatkan perekonomian serta kesejahteraan masyarakat berbasis desa. diadakan pula Kegiatan-Kegiatan Dalam Rangka Peningkatan Kesadaran terhadap SDA, serta Program Penyelamatan Bencana agar pemerintah dan masyarakat dapat tanggap terhadap bencana apapun yang mengancam di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Strategi terakhir yaitu Kebijakan Perencanaan Strategis Guna Mengembangkan Kawasan Dieng sebagai Destinasi Wisata Unggulan dengan menerapkan tiga potensi utama wilayah Dieng sebagai asset dalam pembangunan wilayah yaitu pertanian, pariwisata dan lingkungan.

Berbagai program dan strategi kebijakan tersebut bukan pekerjaan mudah, namun membutuhkan  dukungan dana yang tidak sedikit , waktu yang panjang serta kerjasama dari berbagai pihak sehingga dapat mewujudkan Dieng sebagai kawasan elok dan menerapkan sistem konservasi lahan secara berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2010. http://www.savedieng.org/index.php?option=com_content&view= article&id=66:penyelamatan-dieng-perlu-kesamaan-persepsi-6-daerah&catid =38:artikel&Itemid=67. Diakses pada 30 Agustus 2010

Anonymous, 2010. http://brabaskoro.info/gagasan/artikel/pengembangan-industri-kreatif-pariwisata-di-dataran-tinggi-dieng-sebagai-basis-ekonomi-provinsi-jawa-tengah. Diakses pada 30 Agustus 2010

Anonymous, 2010. http://mkundarto.wordpress.com/category/lingkungan/page/2/. Diakses pada 30 Agustus 2010

Anonymous, 2010. http://mirror.unpad.ac.id/koran/mediaindonesia/2010-08-04/mediaindonesia_2010-08-04_029.pdf. Diakses pada 30 Agustus 2010

Anonymous, 2010. http://id.wikipedia.org/wiki/Dieng. Diakses pada 30 Agustus 2010

Anonymous, 2010. http://www.menlh.go.id/home/index.php?option=com_ content&view=article&id=1580:KADER-LINGKUNGAN-DI-DATARAN-TINGGI-DIENG&lang=en&Itemid=0. Diakses pada 30 Agustus 2010

Anonymous, 2010. http://savedieng.org/blog2/. Diakses pada 31 Agustus 2010

Anonymous, 2010. http://antaranews.com/berita/1271030331/dua-desa-jadi-model-konservasi-kawasan-dieng. Diakses pada 31 Agustus 2010

Anonymous, 2010.http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/ 2009/05/18/64003/Mendorong-Program-Pemulihan-Dieng. Diakses pada 31 Agustus 2010

Anonymous, 2010. http://www.walhi.or.id/in/ruang-media/arsip-walhi-di-media/621-longsor-wonosobo-akibat-pohon-di-lahan-miring-diganti-sayuran. Diakses pada 31 Agustus 2010

Anonymous, 2010. http://susurserayu.wordpress.com/category/uncategorized/. Diakses pada 31 Agustus 2010

Anonymous, 2010. http://eprints.undip.ac.id/18791/1/RENI_ANDRIANA.pdf. Diakses pada 31 Agustus 2010

Anonymous, 2010. http://www.infojawa.org/index.php?action=news. detailBlok&id_news=391. Diakses pada 31 Agustus 2010

Kompas. 18 Maret 2006. Kawasan Lindung Dieng Rusak. www.kompas.com.

Suara Merdeka.19 Juni 2006. Dilema Menanam Kentang. www.suaramerdeka.com.

Suara Merdeka. 30 Agustus, 2005. Sebuah Pelajaran Berharga dari Dieng. www.suaramerdeka.com.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *